Kata orang
menulis atau melakukan suatu hal yang menyenangkan itu adalah hal yang paling
menenangkan saat kau sedang depresi atau stres berat. Namun aku rasa itu tak
berlaku bagiku. Bagiku, semua sama saja, hambar dan tidak ada rasanya. Kurasa
aku mulai kehilangan perasaanku lagi. Aku dah gak mampu merasakan kebahagiaan,
tawa dan senyum yang ikhlas ataupun hati yang benar-benar nyaman dengan suatu
keadaan. Ya mungkin aku bisa dikatakan kurang bersyukur atas apa yang kumiliki.
Tapi sungguh bukan maksudku untuk tidak mensyukuri nikmat ini, hanya saja sulit
bagiku menerima kenyataan dan keadaan yang seperti ini. Aku sedang krisis
perasaan.
Perasaanku
menjadi dangkal dan rasanya sekarang aku hanya seperti seorang zombie yang
berjalan. Tak ada perasaan yang begitu mendalam, hanya bergerak ngalor ngidul
lontang lantung kesana kemari tanpa ada tujuan dan arah. Ya Allah rasanya
benar-benar hambar. Kuliah hambar, sekolah dan ngajar hambar, bahkan tidurku
pun tak nyenyak dan terasa begitu hambar. Seperti mayat hidup, aku berjalan dan
terlihat normal tapi aku tidak berjalan menggunakan ‘aku’ sendiri. Aku bingung
atas apa yang terjadi pada diriku, aku cerdas tapi aku bodoh.
Aku berjalan
terus setiap hari kesana kemari tanpa ada yang menghentikan. Berjalan, berjalan
dan terus berjalan tanpa ada hentinya. Sebenarnya aku lelah akan semua ini, aku
lelah kabur dari semua hal yang memang menyibukkan dan menyakitkanku ini.
Rasanya kuingin menghabisi setiap keping kehidupan disini yang membuatku begitu
tersiksa. Aku ingin jujur kepada kedua orang tuaku tentang kuliahku, namun
jujur saja aku kurang memiliki keberanian soal itu. Ayah atau Abiku memang
tegas dan menyerahkan semua pilihan padaku. Sejak kecil beliau selalu
mengajarkan kepadaku untuk menyelesaikan setiap
masalah yang kuperbuat dahulu sebelum akhirnya pergi meninggalkan
semuanya. Dan itulah yang kurasa harus kulakukan sekarang. Aku harus segera
menyelesaikan masalah-masalahku sesegera mungkin dan menemukan solusinya dengan
hatiku. Ya dengan hatiku bukan dengan otakku, otakku sudah terlalu lemah dan
terlalu lelalh memikirkan ini, kapasitasnya cukup tapi akan menghabiskan
power-consumption yang banyak jika aku terus tetap menggunakannya secara
sembarangan.
Memang rasanya
sangat tak adil kalau aku hanya membahas permasalahan ini dari sisiku sendiri,
terlalu naif dan arogan sekali kalau aku hanya memandang permasalahan ini dari
sisiku saja. Aku mencoba untuk memandang permasalahan ini dari sisi Abiku,
mengukurnya dengan tolak ukur Umiku, memandangnya secara bijak dari sudut pandang
Pakdhe Wi’ dan melihat segalanya secara terbuka seperti seekor elang. Aku
mencoba menyelesaikan masalah yang pelik dan rumit ini dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya. Tapi sungguh hal ini kadang-kadang membuatku pusing lelah
dan merasakan depresi yang lebih besar pula. Memandang suatu hal dari berbagai
sudut pandang itu memang menarik namun sulit untuk dilakukan, dan inilah
resikonya. Kalau diri kita tidak pusing maka ya galau lah paling minimal.
Aku mencoba
untuk menghindari kegilaan ini, seperti yang aku katakan diatas tadi, aku sudah
mencoba untuk kabur dan lari dari pelbagai permasalahan yang pelik ini, namun
yang ada setiap aku berusaha meloloskan diri dari masalah yang terjadi ini
selalu saja aku dihadapkan pada pertanyaan, “Ahmad, apakah dirimu sebegitu
teganya mengkhianati amanah dari si fulan atau si fulanah”. Ampuun, itulah satu
hal yang terus ada di pikiranku, selalu menggangguku setiap detik dan setiap
inci kehidupanku.
Pakdhe Wi’
minggu kemarin mengatakan kepadaku bahwa tingkatan manusia itu ada beberapa
tingkat kalau dilihat dari perkembangan hatinya. Ada golongan yang mata hatinya
terbuka begitu lebar, itulah golongan orang-orang yang bertakwa. Ada juga
golongan orang yang mata hatinya itu kriyip kriyip atau masih seperti orang
mengantuk, jadi kadang terbuka dan kadang tertutup, inlah golongan orang yang
tingkat islamnya masih sekedar beriman saja. Golongan yang lain adalah golongan
orang yang mata hatinya tertidur, mereka adalah orang-orang yang musyrik.
Sedangkan golongan terakhir adalah golongan orang-orang yang benar-benar buta
dan tertutup mata hatinya, itu adlaah
golongan orang orang yang kafir dan munafik, na’udzubillah tsumma na’udzubillahi min dzaalik. Pakdhe menjelaskan
bahwa orang yang bertakwa pasti bisa mnyelesaikan masalahnya dengan tenang dan
mampu menemukan jawabnya aatau
sollusinya dengan tepat dan cepat. Itu karena mata hatinya udah terbuka,
sedangkan orang yang beriman maka dia akan sgak kesulitan menemukan solusi
pemecahan masalah hidupnya karena matanya masih kriyip kriyip dalam melihat
suatu permasalahn. Ketika memikirkan ini kadang aku jadi berfikir, apa aku
masih termasuk sebagai orang-orang yang beriman tapi belum bertakwa ini, atau
malah masuk ke golongan orang yang musyrik, na’udzubillah.
Aku masih mencari dan terus ingin menggali apa jawaban yang tepat untuk semua
ini. Aku yakin Abiku bisa menjawab semua ini. Namun beliau selalu mengatakan
bahwa aku harus berkembang sesuai dengan bagaimana aku berkembang. Beliau
percaya bahwa aku adalah orang yang begitu spesial dan memiliki jalan hidup
yang baik meski berliku. Meski kami jarang berbicara namun entah kenapa aku
selalu tahu apa yang beliau maksud. Bahkan sampai beliau menaruhku di NRA dan
bersama Jama’ah ini aku bisa tahu pasti abiku memiliki tujuan yang begitu mulia
dan akan sulit kupahami pada awalnya.
Hmm, kalau
berbicara kembali ke Abiku, maka sebenarnya banyak hal yang harusnya
kuceritakan kepada kalian. Di awal tadi aku udah menceritakan sedikit tentang
Abiku yang begitu tegas dan memiliki berbagai cara yang khusus dalam menghadapi
anaknya. Aku dan keenam adikku diperlakukan dengan cara yang berbeda. Aku yang
dari kecil jarang bertemu dengan Abiku karena Abiku bekerja di kampung sebagai
petani dan umiku saat itu tinggal di tempat nenekku di kota, dididik keras dan
tegas dan lebih tepatnya diproteksi lebih daripada anak-anaknya yang lain.
Sejak kecil aku sering dilarang ini itu sampai kadang aku ngambek karena larangan yang begitu banyak. Mungkin kalau
dibuat kitab undang-undang, larangan yang dibuat Abi dan Umiku bisa saja
menyaingi undang-undang dasar 45 punya Indonesia. Sedikit-sedikit dilarang,
bermain bersama teman sampai 3 jam dilarang, bermain bersama teman yang ada di
RT sebelah juga dilarang, bahkan kalau pulang sekolah, untuk keluar rumah lebih
5 meter dari halaman rumah aja pasti dipanggil-panggil dan diacungi kepalan
tangan. Waktu itu sampai aku pertama kali menginjak bangku SMA, sesak betul
rasanya diperlakukan seperti itu. Kadang mengumpat, ngedumel dan ngambek,
itulah kegiatan sehari-hariku. Tapi entah kenapa saaat kelas XI aku baru
menyadari ternyata apa yang dilakukan Abiku ini sangatlah tepat dan benar-benar
hebat. Beliau seolah-olah menginjeksikan pelajaran moral yang begitu berharga
tanpa aku sadari. Kecerdasan dan kelihaian beliau menanamkan nilai dalam hati
anaknya sangat beragam dan kuat sekali. Baru pada saat itu aku mulai merasakan
apa yang diajarkan abiku ternyata manfaatnya begitu besar dan sangat tidak
terduga hasilnya. Aku mulai merasakan mass-effect dari apa yang diajarkan oleh
abiku. Aku mulai merasakan genom dan genotipe dalam susunan DNA-ku bangkit,
membuat kedewasaan dan kebijaksanaanku berkembang begitu pesat dan melebihi
umurku yang sesungguhnya. Entah cara apa yang beliau gunakan, mungkin
mendidikku dengan cara mengekangku kemudian setelah itu melepaskanku begitu
saja memang cara yang terbaik untuk mengendalikan perilakuku yang kadang
uncontrolled. Betul sekali kata orang orang bijak, “Kau akan bisa mengerti
sebuah tanggungjawab ketika kau sudah merasakan arti dari kebebasan dan arti
dari pengekangan.”
Lain kakak,
lain pula adik. Abiku mendidik setiap adik-adikku pun dengan cara yang unik dan
berbeda. Abiku mendidik adikku Ummu Aiman dengan sangat taktis, tegas tapi
beliau begitu perhatian dengan adikku itu, setiap barang yang diimintanya
hampir selalu diberikan. Sangat jauh kesannya denganku yang selalu dilarang dan
terlalu overprotective. Adikku selalu diberikan kebebasan dan difasilitasi
lengkap dengan segala hal yang dia mau. Ketika dia di pesantren, dia selalu
diperhatikan lebih dan segala hal yang berkenaan dengan kebutuhan bahkan
keinginannya pun selalu dipenuhi. Mulai dari Sabun mandi, hingga permintaan
setiap 2 minggu sekali orangtuaku menjenguk pun selalu dikabulkan oleh kedua
orangtuaku. Mungkin Abi dan umiku sedikit trauma dengan pemberontakanku
terhadap cara mendidik mereka yang keras kepadaku. Ketika di pesantren aku
sering sekali kabur dan lari dari pesantren hanya karena aku tidak suka
dikekang. Ya memang kadang bisa disebut aneh juga sih, tapi inilah aku. Kembali
lagi ke adikku Ummu, dia diperlakukan sedemikian rupa lalu Abi pun mulai
kembali menanamkan nilai-nilai yang tinggi kepada adikku itu. Dia memang gak
sepemberontak aku dan cenderung mengikuti orangtua meski dia memang selalu
kurang suka memperhatikan apa nasihat orangtuaku. Abiku mendidiknya dengan cara
penanaman secara tak langsung dengan mengkondisikan lingkungan sekitarnya untuk
pas dan sesuai dengan apa yang beliau inginkan, sesuai Islam. Beliau memberikan
pengajaran dengan metode yang sederhana kepada Ummu dan membiarkannya mencerna
dengan pelan. Ya memang adikku dan aku untuk soal kecerdasan memang agak
sedikit jauh namun di lebih mudah untuk bergaul, maka dari itu abiku memutuskan
untuk memberikan lingkungan yang bisa mengajarkannya nilai-nilai yang tinggi.
Untuk adikku
yang lain pun berbeda pula cara beliau mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada
mereka. Untuk Ihsan maka dia diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap apapun
yang di jalani. Dia dibebaskan untuk bermain dan mengenal lingkungan di
sekitarnya tapi ketika sudah waktunya adzan, Abi mewajibkan dia untuk datang ke
masjid kampung sejauh apapun dia main. Anehnya cara ini benar-benar berjalan
dan bekerja untuk dia yang begitu bandelnya. Paling sulit untuk dinasehati,
paling sulit untuk disuruh dan paling tahan banting. Tapi itulah Abi kami,
beliau begitu super sehingga anak paling bandel pun bisa dikendalikan. Adikku
yang berikutnya adalah Khodijah, anak yang paling nurut dan paling pengertian
diantara semua saudaraku. Meski masih kecil namun sudah mengerti benar arti
tanggung jawab, untuk dia yang berperan besar adalah Umi yang selalu
mengajarkan arti jerih payah dan arti susahnya mencari kesejahteraan bagi
keluarga kami yang berpenghasilan kecil. Dia benar benar mengerti apa arti
kesedihan dan bagaimana menghadapi kakak dan adik-adiknya. Dari kecil dia
diberikan perhatian yang besar, termasuk dari aku juga. Dari adik-adikku, aku
paling suka bercanda dengan dia dan paling suka menggendong dia. Sejak kecil
dia memiliki wajah paling putih dan paling cantiik diantara adik perempuanku
yang lain. Wajahnya mirip seperti umiku. Dia punya karakter yang unik, pemalu,
pendiam tapi kadang cerewet juga soal kebersihan. Setiap pagi dia bertanggung
jawab membersihkan rumah dan seisinya. Umiku benar-benar mendidiknya sebagai
seorang wanita sejati yang siap untuk menjadi orang yang dewasa dan penuh
pengertian terhadap orang lain. Adikku yang berikutnya adalah Anhar atau
sering dipanggil Ana. Seorang adik yang
nakalnya minta ampun. Selalu ingin diberi lebih dan selalu menangis ketika apa
yang diinginkannya tidak dikabulkan. Abi dan Umiku mendidiknya dengan cara
menunjukkan kepadanya tentang bagaimana seharusnya dia bersikap. Abi dan Umiku
jarang marah kepadanya. Hanya kalau sudah terlalu keterlaluan menangisnya saja
maka Umi dan Abiku akan marah pada dia.
Abi sering mengajaknya jalan-jalan dan menunjukkan banyak hal yang
lainnya dan itu jarang ditunjukkan pada kami kakak-kakanya. Anhar dan Khodijah
memiliki wajah, fisik dan penampilan yang hampir sama tapi memiliki karakter
yang berbeda. Khodijah lebih sering mengalah sedangkan Anhar lebih sering
dituruti namun juga tetap diberi batasan tertentu oleh Abiku. Sejak kecil Anhar
memang agak nakal, namun seiring perkembangannya, Anhar sekarang mulai mengerti
bagaimana seharusnya dia bersikap terhadap kakak dan adiknya terlebih lagi
kepada Khodijah yang selama ini banyak megalah untuk dia.
Berikutnya,
Shobur, adik laki-lakiku yang paling ngegemesin dan paling cerdas
(kelihatannya) diantara adik-adikku yang lain. Tubuhnya memang kecil namun
mudah diajak bicara dan cepat mengerti jika diajarkan sesuatu. Kemampuan
bergaulnya dengan orang lain yang begitu cepat membuatnya mudah diterima orang.
Terlebih lagi ditambah dengan wajahnya yang masih tampak menggemaskan,
tingkahnya yang hebat dan diluar pemikiran orang lain membuatnya begitu
spesial. Abiku benar-benar menyayangi dia melebihi anak yang lain tanpa
menimbulkan perasaan cemburu pada anak lainnya. Dia dididik oleh Abi untuk
menjadi orang yang sholeh dan juga pintar. Sejak kecil dia selalu diajak Abi ke
masjid setiap waktu sholat. Dari subuh sampe Isya’ kalau Abi ke masjid pasti
dia ikut terus. Sampai sekarang ketika ditinggal oleh Abi pun dia selalu
meminta untuk ditemani ke masjid. Peendidikan yang Abi tanamkan agar dia
mencintai masjid benar-benar berhasil. Dari anaknya yang pertama yang paling
gila hingga anak ke-enamnya yang paling menggemaskan dan cerdas, semuanya
berhasil memperoleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh beliau. Sekarang hanay
tinggal menunggu giliran Fathan, Adikku yang paling kecil dan masih berumur
hampir 2 tahun. Aku yakin dia akan jadi orang yang hebat suatu saat.
Setiap
mengingat mereka berdua hanya ada satu kalimat yang ingin aku ucapkan. Abi,
Umi.. aku rindu kalian. Maafkan aku yang begitu bodoh mensia-siakan masa-masaku
bersama kalian. Maafkan aku ketika SMA dahulu aku jarang pulang, karena aku
menemukan jalan dakwah sebagai jalan hidupku sehingga aku melupakan kalian
sebagai jalan baktiku. Abi, Umi, aku terlalu banyak berbuat kesalahan yang tak
terperi pada kalian. Maafkanlah aku. Aku.. Aku.. Memang sampah.