Senin, 26 November 2012

My 100 Dreams.. So It will be Next Destination..


Setiap orang menginginkan untuk mencapai apa yang dia inginkan, begitu pula denganku. Aku ingin memiliki dan mencapai semua impianku. So..
This is What I want to reach.. So What will you want to reach?

  1. Mendaki Gunung Lawu
  2. Mendaki Gunung Merapi
  3. Mendaki Gunung Merbabu
  4. Mendaki Gunung Semeru
  5. Mempunyai Usaha yang Sukses segi Pendapatan maupun Pengeluaran
  6. Mengikuti passionku dalam Komputer
  7. Menemukan Impianku yang sebenarnya
  8. Membeli Laptop dengan hasil Jerih Payah Sendiri
  9. Membuat web dengan nama MadangMul.com
  10. Membuat sebuah penemuan dalam bidang teknologi
  11. Mendaki Gunung Fuji
  12. Pergi ke Jepang dan belajar disana
  13. Pergi ke India dan mengadakan perjalanan Spiritual
  14. Trip ke Mesir dan Mempelajari Piramida Giza
  15. Menjual Laptop dan bergerak dalam bidang penjualan / bisnis Teknologi
  16. Membuat armor seperti Iron Man
  17. Menyatukan Islam dan membantu pekerjaan Imam Mahdi
  18. Meneliti tentang Pulau Soqotra
  19. MEMBUAT SEBUAH JURNAL ILMIAH
  20. Mendapat Honorable Doctoral tanpa harus kuliah
  21. Menjelajahi kota Yogyakarta
  22. Menemukan tempat-tempat yang ada di mimpiku 1st Hint go to Flores
  23. Menancapkan bendera Islam di Konstantinopel dan Vatikan
  24. Mempelajari Fisika Kuantum
  25. Menjadi inspirator bagi semua orang yang ada di sekitarku
  26. Mendapatkan ucapan terima kasih dari adik-adik kandungku
  27. Membuat bahagia kedua orang tuaku
  28. Lepas dari kemalasan dan menemukan kegiatan yang bermanfaat bagiku setiap harinya
  29. Kembali Ke Sragen, meneruskan da'wah Abi
  30. Menyatukan Islam di Sragen
  31. Melepaskan diri dari belenggu kebiasaan buruk dan memulai hidup yang baru
  32. 1 bulan penuh tak pernah terlambat sholat
  33. Masuk dan mempelajari bidang yang benar benar disukai
  34. Membangun sebuah Pesantren untuk anak yang kurang mampu
  35. Hafal kembali 7 juz dan menambahnya dengan hafalan lain
  36. Hafal Al-Qur'an
  37. Menyerahkan semua hal ke Allah dan belajar tawadhu'
  38. Belajar ke Syaikh yang ada di Mekkah
  39. Hunting Foto di Russia dan Italia
  40. Membeli Kamera DSLR dengan uang jerih payah sendiri
  41. Membelikan barang barang yang bermanfaat bagi adik-adik
  42. Wakaf tanah total seluas 3 hektar untuk kepentingan ummat
  43. Merintis penyatuan Baitul Maal dan sistem keuangan Islam
  44. Belajar Kitab hadits di Solo dahulu, nanti baru ke Makkah dan Madinah
  45. Membuat barang spserti di intructables.com
  46. Project Kas-Board Game harus selesai
  47. Menyelesaikan Novel "Elegi Manusia Elang"
  48. Shalat Dhuha rutin setiap minggu minimal 2 minggu berturut-turut
  49. Mendaftar bela diri dan belajar disana minimal 3 bulan
  50. Hidup, menetap dan menjadi Mujahid di Palestina
  51. Membuat sebuah blog yang berisi tentang pengetahuan Umum
  52. Memberangkatkan orang tua haji atau umroh
  53. Memberikan adik-adikku dimana saja dia berada sebuah pelajaran hidup
  54. Membuat sebuah karya seni yang akan dikenang meski hanya oleh orang terdekat
  55. Menikah secepatnya
  56. Membuat atau menulis buku yang berisi sebuah penelitian
  57. Melangkahkan kaki ke Malaysia atau Singapura
  58. Mebuat sebuah video yang unik
  59. Membuat sebuah inovasi sederhana dalam pengefisienan waktu
  60. Di umur 20, sudah punya penghasilan sendiri
  61. Belajar menyelam dan Diving di Raja Ampat
  62. Mengunjungi Angela waterfall
  63. Bershodaqoh 30 juta rupiah dan hanya atas nama Allah
  64. Menguasai bahasa php dan membangun website sendiri
  65. Belajar Tai Chi
  66. Melakukan lompatan super dalam kehidupan
  67. Menjadi pengurus masjid, minimal jadi takmir
  68. Menjalani kehidupan sebagai pemain di belakang layar
  69. Membuat pisau atau pedang dengan tangan sendiri
  70. Membuat sebuah daftar project untuk plan ke depan
  71. Berpetualang di daerah sekitar Gunung Kidul
  72. Membuat sebuah catatan yang berisi tentang Quotes yang bermutu dan cemerlang
  73. Hidup Mandiri
  74. Mampu memasak dengan tingkat kesulitan seperti Chef
  75. Belajar Free-Run atau Parkour
  76. Membuat komik strip atau karikatur
  77. Membeli kitab Jami'ush shagiir
  78. Mempelajari Fathul Bari paling tidak belajar bahasa Indonesianya
  79. Mengkaji kitab Ihya' 'Ulumuddin
  80. Menghafal hadits Arba'iin
  81. Membaca dan belajr kitab Al Bidayah wa Nihayah karangan Ibnu Katsir
  82. Kota Malang, I'll be there soon !
  83. Mengunjungi Kota Bandung
  84. Menjadi fotografer untuk National Geographic
  85. Beli elang kepala botak + surat-surat legalnya
  86. Menulis 100 ide untuk membuat penemuan baru
  87. Membuat 10 pertanyaan di tanggal genap dan menjawab pertanyaan di tanggal ganjil untuk diri sendiri
  88. Belajar editing video tingkat advance
  89. Membuat sebuah animasi dari aplikasi blender
  90. Blue-Print plan untuk rancangan bangunan
  91. Membuat kehidupan orang di lingkungan sekitar berubah 180o
  92. Rancangan komik superhero
  93. Bereksperimen dengan barang yang ada di sekitar rumah
  94. Membuat sebuah sekolah yang mempelajari ilmu berdasarkan manfaatnya
  95. Mengirim Foto untuk lomba dan menjuarai lomba
  96. Menata ulang susunan hidup untuk ke depan
  97. Mobil remote Control dan hadiah untuk adik-adik di lebaran mendatang
  98. Merasakan terbang diatas langit
  99. Melihat bintang dengan teleskop
  100. Mempunyai tempat tinggal sendiri

Rabu, 14 November 2012

Lantunan di Sore yang Kelam


Kata orang menulis atau melakukan suatu hal yang menyenangkan itu adalah hal yang paling menenangkan saat kau sedang depresi atau stres berat. Namun aku rasa itu tak berlaku bagiku. Bagiku, semua sama saja, hambar dan tidak ada rasanya. Kurasa aku mulai kehilangan perasaanku lagi. Aku dah gak mampu merasakan kebahagiaan, tawa dan senyum yang ikhlas ataupun hati yang benar-benar nyaman dengan suatu keadaan. Ya mungkin aku bisa dikatakan kurang bersyukur atas apa yang kumiliki. Tapi sungguh bukan maksudku untuk tidak mensyukuri nikmat ini, hanya saja sulit bagiku menerima kenyataan dan keadaan yang seperti ini. Aku sedang krisis perasaan.
Perasaanku menjadi dangkal dan rasanya sekarang aku hanya seperti seorang zombie yang berjalan. Tak ada perasaan yang begitu mendalam, hanya bergerak ngalor ngidul lontang lantung kesana kemari tanpa ada tujuan dan arah. Ya Allah rasanya benar-benar hambar. Kuliah hambar, sekolah dan ngajar hambar, bahkan tidurku pun tak nyenyak dan terasa begitu hambar. Seperti mayat hidup, aku berjalan dan terlihat normal tapi aku tidak berjalan menggunakan ‘aku’ sendiri. Aku bingung atas apa yang terjadi pada diriku, aku cerdas tapi aku bodoh.
Aku berjalan terus setiap hari kesana kemari tanpa ada yang menghentikan. Berjalan, berjalan dan terus berjalan tanpa ada hentinya. Sebenarnya aku lelah akan semua ini, aku lelah kabur dari semua hal yang memang menyibukkan dan menyakitkanku ini. Rasanya kuingin menghabisi setiap keping kehidupan disini yang membuatku begitu tersiksa. Aku ingin jujur kepada kedua orang tuaku tentang kuliahku, namun jujur saja aku kurang memiliki keberanian soal itu. Ayah atau Abiku memang tegas dan menyerahkan semua pilihan padaku. Sejak kecil beliau selalu mengajarkan kepadaku untuk menyelesaikan setiap  masalah yang kuperbuat dahulu sebelum akhirnya pergi meninggalkan semuanya. Dan itulah yang kurasa harus kulakukan sekarang. Aku harus segera menyelesaikan masalah-masalahku sesegera mungkin dan menemukan solusinya dengan hatiku. Ya dengan hatiku bukan dengan otakku, otakku sudah terlalu lemah dan terlalu lelalh memikirkan ini, kapasitasnya cukup tapi akan menghabiskan power-consumption yang banyak jika aku terus tetap menggunakannya secara sembarangan.
Memang rasanya sangat tak adil kalau aku hanya membahas permasalahan ini dari sisiku sendiri, terlalu naif dan arogan sekali kalau aku hanya memandang permasalahan ini dari sisiku saja. Aku mencoba untuk memandang permasalahan ini dari sisi Abiku, mengukurnya dengan tolak ukur Umiku, memandangnya secara bijak dari sudut pandang Pakdhe Wi’ dan melihat segalanya secara terbuka seperti seekor elang. Aku mencoba menyelesaikan masalah yang pelik dan rumit ini dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tapi sungguh hal ini kadang-kadang membuatku pusing lelah dan merasakan depresi yang lebih besar pula. Memandang suatu hal dari berbagai sudut pandang itu memang menarik namun sulit untuk dilakukan, dan inilah resikonya. Kalau diri kita tidak pusing maka ya galau lah paling minimal.
Aku mencoba untuk menghindari kegilaan ini, seperti yang aku katakan diatas tadi, aku sudah mencoba untuk kabur dan lari dari pelbagai permasalahan yang pelik ini, namun yang ada setiap aku berusaha meloloskan diri dari masalah yang terjadi ini selalu saja aku dihadapkan pada pertanyaan, “Ahmad, apakah dirimu sebegitu teganya mengkhianati amanah dari si fulan atau si fulanah”. Ampuun, itulah satu hal yang terus ada di pikiranku, selalu menggangguku setiap detik dan setiap inci kehidupanku.
Pakdhe Wi’ minggu kemarin mengatakan kepadaku bahwa tingkatan manusia itu ada beberapa tingkat kalau dilihat dari perkembangan hatinya. Ada golongan yang mata hatinya terbuka begitu lebar, itulah golongan orang-orang yang bertakwa. Ada juga golongan orang yang mata hatinya itu kriyip kriyip atau masih seperti orang mengantuk, jadi kadang terbuka dan kadang tertutup, inlah golongan orang yang tingkat islamnya masih sekedar beriman saja. Golongan yang lain adalah golongan orang yang mata hatinya tertidur, mereka adalah orang-orang yang musyrik. Sedangkan golongan terakhir adalah golongan orang-orang yang benar-benar buta dan tertutup mata hatinya, itu adlaah  golongan orang orang yang kafir dan munafik, na’udzubillah tsumma na’udzubillahi min dzaalik. Pakdhe menjelaskan bahwa orang yang bertakwa pasti bisa mnyelesaikan masalahnya dengan tenang dan mampu  menemukan jawabnya aatau sollusinya dengan tepat dan cepat. Itu karena mata hatinya udah terbuka, sedangkan orang yang beriman maka dia akan sgak kesulitan menemukan solusi pemecahan masalah hidupnya karena matanya masih kriyip kriyip dalam melihat suatu permasalahn. Ketika memikirkan ini kadang aku jadi berfikir, apa aku masih termasuk sebagai orang-orang yang beriman tapi belum bertakwa ini, atau malah masuk ke golongan orang yang musyrik, na’udzubillah. Aku masih mencari dan terus ingin menggali apa jawaban yang tepat untuk semua ini. Aku yakin Abiku bisa menjawab semua ini. Namun beliau selalu mengatakan bahwa aku harus berkembang sesuai dengan bagaimana aku berkembang. Beliau percaya bahwa aku adalah orang yang begitu spesial dan memiliki jalan hidup yang baik meski berliku. Meski kami jarang berbicara namun entah kenapa aku selalu tahu apa yang beliau maksud. Bahkan sampai beliau menaruhku di NRA dan bersama Jama’ah ini aku bisa tahu pasti abiku memiliki tujuan yang begitu mulia dan akan sulit kupahami pada awalnya.
Hmm, kalau berbicara kembali ke Abiku, maka sebenarnya banyak hal yang harusnya kuceritakan kepada kalian. Di awal tadi aku udah menceritakan sedikit tentang Abiku yang begitu tegas dan memiliki berbagai cara yang khusus dalam menghadapi anaknya. Aku dan keenam adikku diperlakukan dengan cara yang berbeda. Aku yang dari kecil jarang bertemu dengan Abiku karena Abiku bekerja di kampung sebagai petani dan umiku saat itu tinggal di tempat nenekku di kota, dididik keras dan tegas dan lebih tepatnya diproteksi lebih daripada anak-anaknya yang lain. Sejak kecil aku sering dilarang ini itu sampai kadang aku ngambek karena  larangan yang begitu banyak. Mungkin kalau dibuat kitab undang-undang, larangan yang dibuat Abi dan Umiku bisa saja menyaingi undang-undang dasar 45 punya Indonesia. Sedikit-sedikit dilarang, bermain bersama teman sampai 3 jam dilarang, bermain bersama teman yang ada di RT sebelah juga dilarang, bahkan kalau pulang sekolah, untuk keluar rumah lebih 5 meter dari halaman rumah aja pasti dipanggil-panggil dan diacungi kepalan tangan. Waktu itu sampai aku pertama kali menginjak bangku SMA, sesak betul rasanya diperlakukan seperti itu. Kadang mengumpat, ngedumel dan ngambek, itulah kegiatan sehari-hariku. Tapi entah kenapa saaat kelas XI aku baru menyadari ternyata apa yang dilakukan Abiku ini sangatlah tepat dan benar-benar hebat. Beliau seolah-olah menginjeksikan pelajaran moral yang begitu berharga tanpa aku sadari. Kecerdasan dan kelihaian beliau menanamkan nilai dalam hati anaknya sangat beragam dan kuat sekali. Baru pada saat itu aku mulai merasakan apa yang diajarkan abiku ternyata manfaatnya begitu besar dan sangat tidak terduga hasilnya. Aku mulai merasakan mass-effect dari apa yang diajarkan oleh abiku. Aku mulai merasakan genom dan genotipe dalam susunan DNA-ku bangkit, membuat kedewasaan dan kebijaksanaanku berkembang begitu pesat dan melebihi umurku yang sesungguhnya. Entah cara apa yang beliau gunakan, mungkin mendidikku dengan cara mengekangku kemudian setelah itu melepaskanku begitu saja memang cara yang terbaik untuk mengendalikan perilakuku yang kadang uncontrolled. Betul sekali kata orang orang bijak, “Kau akan bisa mengerti sebuah tanggungjawab ketika kau sudah merasakan arti dari kebebasan dan arti dari pengekangan.”
Lain kakak, lain pula adik. Abiku mendidik setiap adik-adikku pun dengan cara yang unik dan berbeda. Abiku mendidik adikku Ummu Aiman dengan sangat taktis, tegas tapi beliau begitu perhatian dengan adikku itu, setiap barang yang diimintanya hampir selalu diberikan. Sangat jauh kesannya denganku yang selalu dilarang dan terlalu overprotective. Adikku selalu diberikan kebebasan dan difasilitasi lengkap dengan segala hal yang dia mau. Ketika dia di pesantren, dia selalu diperhatikan lebih dan segala hal yang berkenaan dengan kebutuhan bahkan keinginannya pun selalu dipenuhi. Mulai dari Sabun mandi, hingga permintaan setiap 2 minggu sekali orangtuaku menjenguk pun selalu dikabulkan oleh kedua orangtuaku. Mungkin Abi dan umiku sedikit trauma dengan pemberontakanku terhadap cara mendidik mereka yang keras kepadaku. Ketika di pesantren aku sering sekali kabur dan lari dari pesantren hanya karena aku tidak suka dikekang. Ya memang kadang bisa disebut aneh juga sih, tapi inilah aku. Kembali lagi ke adikku Ummu, dia diperlakukan sedemikian rupa lalu Abi pun mulai kembali menanamkan nilai-nilai yang tinggi kepada adikku itu. Dia memang gak sepemberontak aku dan cenderung mengikuti orangtua meski dia memang selalu kurang suka memperhatikan apa nasihat orangtuaku. Abiku mendidiknya dengan cara penanaman secara tak langsung dengan mengkondisikan lingkungan sekitarnya untuk pas dan sesuai dengan apa yang beliau inginkan, sesuai Islam. Beliau memberikan pengajaran dengan metode yang sederhana kepada Ummu dan membiarkannya mencerna dengan pelan. Ya memang adikku dan aku untuk soal kecerdasan memang agak sedikit jauh namun di lebih mudah untuk bergaul, maka dari itu abiku memutuskan untuk memberikan lingkungan yang bisa mengajarkannya nilai-nilai yang tinggi.
Untuk adikku yang lain pun berbeda pula cara beliau mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada mereka. Untuk Ihsan maka dia diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang di jalani. Dia dibebaskan untuk bermain dan mengenal lingkungan di sekitarnya tapi ketika sudah waktunya adzan, Abi mewajibkan dia untuk datang ke masjid kampung sejauh apapun dia main. Anehnya cara ini benar-benar berjalan dan bekerja untuk dia yang begitu bandelnya. Paling sulit untuk dinasehati, paling sulit untuk disuruh dan paling tahan banting. Tapi itulah Abi kami, beliau begitu super sehingga anak paling bandel pun bisa dikendalikan. Adikku yang berikutnya adalah Khodijah, anak yang paling nurut dan paling pengertian diantara semua saudaraku. Meski masih kecil namun sudah mengerti benar arti tanggung jawab, untuk dia yang berperan besar adalah Umi yang selalu mengajarkan arti jerih payah dan arti susahnya mencari kesejahteraan bagi keluarga kami yang berpenghasilan kecil. Dia benar benar mengerti apa arti kesedihan dan bagaimana menghadapi kakak dan adik-adiknya. Dari kecil dia diberikan perhatian yang besar, termasuk dari aku juga. Dari adik-adikku, aku paling suka bercanda dengan dia dan paling suka menggendong dia. Sejak kecil dia memiliki wajah paling putih dan paling cantiik diantara adik perempuanku yang lain. Wajahnya mirip seperti umiku. Dia punya karakter yang unik, pemalu, pendiam tapi kadang cerewet juga soal kebersihan. Setiap pagi dia bertanggung jawab membersihkan rumah dan seisinya. Umiku benar-benar mendidiknya sebagai seorang wanita sejati yang siap untuk menjadi orang yang dewasa dan penuh pengertian terhadap orang lain. Adikku yang berikutnya adalah Anhar atau sering  dipanggil Ana. Seorang adik yang nakalnya minta ampun. Selalu ingin diberi lebih dan selalu menangis ketika apa yang diinginkannya tidak dikabulkan. Abi dan Umiku mendidiknya dengan cara menunjukkan kepadanya tentang bagaimana seharusnya dia bersikap. Abi dan Umiku jarang marah kepadanya. Hanya kalau sudah terlalu keterlaluan menangisnya saja maka Umi dan Abiku akan marah pada dia.  Abi sering mengajaknya jalan-jalan dan menunjukkan banyak hal yang lainnya dan itu jarang ditunjukkan pada kami kakak-kakanya. Anhar dan Khodijah memiliki wajah, fisik dan penampilan yang hampir sama tapi memiliki karakter yang berbeda. Khodijah lebih sering mengalah sedangkan Anhar lebih sering dituruti namun juga tetap diberi batasan tertentu oleh Abiku. Sejak kecil Anhar memang agak nakal, namun seiring perkembangannya, Anhar sekarang mulai mengerti bagaimana seharusnya dia bersikap terhadap kakak dan adiknya terlebih lagi kepada Khodijah yang selama ini banyak megalah untuk dia.
Berikutnya, Shobur, adik laki-lakiku yang paling ngegemesin dan paling cerdas (kelihatannya) diantara adik-adikku yang lain. Tubuhnya memang kecil namun mudah diajak bicara dan cepat mengerti jika diajarkan sesuatu. Kemampuan bergaulnya dengan orang lain yang begitu cepat membuatnya mudah diterima orang. Terlebih lagi ditambah dengan wajahnya yang masih tampak menggemaskan, tingkahnya yang hebat dan diluar pemikiran orang lain membuatnya begitu spesial. Abiku benar-benar menyayangi dia melebihi anak yang lain tanpa menimbulkan perasaan cemburu pada anak lainnya. Dia dididik oleh Abi untuk menjadi orang yang sholeh dan juga pintar. Sejak kecil dia selalu diajak Abi ke masjid setiap waktu sholat. Dari subuh sampe Isya’ kalau Abi ke masjid pasti dia ikut terus. Sampai sekarang ketika ditinggal oleh Abi pun dia selalu meminta untuk ditemani ke masjid. Peendidikan yang Abi tanamkan agar dia mencintai masjid benar-benar berhasil. Dari anaknya yang pertama yang paling gila hingga anak ke-enamnya yang paling menggemaskan dan cerdas, semuanya berhasil memperoleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh beliau. Sekarang hanay tinggal menunggu giliran Fathan, Adikku yang paling kecil dan masih berumur hampir 2 tahun. Aku yakin dia akan jadi orang yang hebat suatu saat.
Setiap mengingat mereka berdua hanya ada satu kalimat yang ingin aku ucapkan. Abi, Umi.. aku rindu kalian. Maafkan aku yang begitu bodoh mensia-siakan masa-masaku bersama kalian. Maafkan aku ketika SMA dahulu aku jarang pulang, karena aku menemukan jalan dakwah sebagai jalan hidupku sehingga aku melupakan kalian sebagai jalan baktiku. Abi, Umi, aku terlalu banyak berbuat kesalahan yang tak terperi pada kalian. Maafkanlah aku. Aku.. Aku.. Memang sampah.